ABUYA IBRAHIM BIN KH. AHMAD Ulama Kharismatik dan Perintis Pendidikan Islam di Lebak Selatan

Corruptionnews.my.id.// Lebak-Di tengah perjalanan panjang sejarah Islam di Banten, terdapat sosok ulama yang tidak hanya dikenal karena kedalaman ilmu agamanya, tetapi juga karena pengabdiannya kepada masyarakat. Salah satunya adalah Abuya Ibrahim bin KH. Ahmad, ulama sepuh dari Sawarna, Lebak, Banten.

Nama Abuya Ibrahim hingga kini masih dikenang oleh masyarakat Lebak Selatan, khususnya melalui keberadaan Pondok Pesantren Maulana Yusuf di Pagelaran, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.

Masa Kecil dan Perjalanan Menuntut Ilmu:

Abuya Ibrahim diperkirakan lahir di Sawarna, Lebak, Banten, sekitar tahun 1890. Beliau merupakan putra dari KH. Ahmad dari Sawarna dan Hj. Zahroh dari Bayah, Lebak.

Sejak usia muda, Abuya Ibrahim telah ditempa dengan pendidikan agama. Ia belajar kepada sejumlah ulama di berbagai tempat. Salah satu guru yang sangat berpengaruh dalam perjalanan keilmuannya adalah Abuya Dulkarim (KH. Abdul Karim) di Pagelaran.

Tidak berhenti di tanah kelahirannya, Abuya Ibrahim kemudian melanjutkan perjalanan menuntut ilmu hingga ke Makkah Al-Mukarramah. Di Tanah Suci, beliau berguru kepada Abuya Jasir dan disebut bermukim selama sekitar tujuh tahun.

Dalam perjalanan menuntut ilmu tersebut, Abuya Ibrahim juga disebut pernah belajar bersama sejumlah ulama Banten lainnya, sehingga semakin memperluas wawasan dan jaringan keilmuannya.

Sepulang dari Makkah, beliau kembali ke Banten dan melanjutkan pengabdiannya di bidang keagamaan.

Menikah dengan Putri Gurunya

Abuya Ibrahim kemudian menikah dengan Nyai Hj. Ruqoyah, putri dari gurunya, Abuya Dulkarim.

Dari pernikahan tersebut lahir sejumlah putra dan putri yang kemudian sebagian besar turut meneruskan perjuangan keluarga dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.

Keluarga besar Abuya Ibrahim kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan pendidikan pesantren di Pagelaran, Malingping.

🇮🇩 Pernah Menjadi Wedana Cilangkahan

Menariknya, perjalanan hidup Abuya Ibrahim tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren.

Setelah Indonesia merdeka, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Wedana Cilangkahan. Sejumlah sumber menyebut beliau mulai menjalankan tugas tersebut pada masa pascakemerdekaan dan kemudian meninggalkan jabatan itu setelah beberapa tahun karena ingin kembali memusatkan perhatian pada pendidikan agama dan pesantren.

Keputusan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan hidupnya.

Di saat banyak orang mengejar kedudukan, Abuya Ibrahim justru memilih kembali ke jalan pengabdian melalui ilmu, pesantren, dan dakwah.

Beliau kemudian mencurahkan perhatian untuk membangun pendidikan Islam di wilayah Pagelaran dan sekitarnya.

📖 Merintis Pesantren Maulana Yusuf

Pada masa berikutnya, Abuya Ibrahim merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Maulana Yusuf di Kampung Pagelaran, Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.

Pada awal perkembangannya, pendidikan pesantren berlangsung secara tradisional. Para santri belajar berbagai ilmu agama, di antaranya Al-Qur’an, Hadis, Nahwu, dan Shorof, termasuk kitab-kitab dasar seperti Al-‘Amil dan Jurumiyah.

Santrinya tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar Malingping dan Cilangkahan. Para penuntut ilmu juga datang dari berbagai wilayah Banten dan daerah lainnya.

Dari tempat sederhana itulah, kegiatan pendidikan dan dakwah terus berkembang.

Dibangun Bersama Masyarakat

Perjalanan Abuya Ibrahim dalam membangun pesantren tidak dilakukan seorang diri.

Sejumlah tokoh masyarakat dan ulama ikut memberikan dukungan. Tanah dan fasilitas pendidikan dikembangkan melalui bantuan masyarakat serta wakaf, sehingga menjadi tempat belajar dan beribadah bagi generasi berikutnya.

Pesantren tersebut kemudian berkembang dan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat Pagelaran hingga sekarang.

Keberadaan Pondok Pesantren Maulana Yusuf juga menjadi salah satu peninggalan penting dari perjuangan beliau

DZIKRI

Editor_Eika